Jumat, 18 Februari 2011

Maralah, Asal....


Seluruh prilaku hidup Rasulullah s.a.w adalah teladan bagi umatnya, ucapannya, diamnya, bahkan marahnya.  Beliau adalah juga manusia seperti kita, yang bisa merasa sedih, bergembira dan juga marah. Akan tetapi bila kita kaji sirah [perjalanan hidup] beliau s.a.w, maka akan nampak bahwa beliaulah orang yang paling bisa mengendalikan dan menempatkan amarah.
Ya, benar Rasulullah pernah marah, ketika Abu Dzar r.a mengejek sahabat Bilal bin Rabbah. Dengan marahnya beliau membuat Abu Dzar merasa menyesal sehingga dia meletakkan mukanya di tanah dan meminta Bilal menginjaknya.
Ya, benar Rasulullah pernah marah, ketika Sayyidina Umar bin Khattab membawa Taurat, sehingga Rasulullah bersabda:”…. Demi Dzat yg jiwaku berada di tangan-Nya seandai Musa masih hidup niscaya tidaklah melapangkan kecuali dgn mengikuti aku.” [H.R Ahmad]
Tetapi saudara pembaca sekalian, kita juga perlu tahu bahwa Rasulullah s.a.w adalah orang yang paling bisa menahan kemarahannya. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadist. Sauatu ketika datanglah seorang Yahudi bernama, Zaid bin Sa’nah, dengan kasar dia berkata, “Ya Muhammad! Bayarlah hutangmu. Kamu keturunan Bani Hasyim biasa memperlambat pelunasan.”. Maka Umar r.a marah, dan berkata: ““Ya Rasulullah, ijinkanlah aku memenggal leher bedebah ini!”. Rasulullah bersabda, “Ya Umar, aku tidak disuruh berdakwah dengan cara begitu. Antara aku dan dia memang sedang membutuhkan kebijaksanaanmu. Suruhlah dia menagih dengan sopan dan ingatkanlah aku supaya melunasinya dengan baik.”
Mendengar sabda Rasulullah tersebut, orang Yahudi itu berkata, “Demi yang mengutusmu dengan kebenaran. Sebenarnya aku tidak datang untuk menagih hutangmu, namun aku datang untuk menguji akhlakmu. Aku tahu, tempo pelunasan utang belum tiba waktunya. Akan tetapi aku telah membaca sifat-sifatmu dalam Kitab Taurat, dan ternyata terbukti semua, kecuali satu sifat yang belum aku uji, yaitu kebijakkanmu bertindak pada waktu marah. Ternyata tindakan bodoh yang ceroboh sekalipun engkau dapat mengatasinya dengan bijaksana. Itulah yang aku lihat sekarang ini. Maka terimalah Islamku ini, ya Rasulullah,“Asyhadu alaa ilada illallah wa annaka ya Muhammad Rasulullah”.
Ada pelajaran penting yang kita ambil dari peristiwa di atas: Pertama, Rasulullah s.a.w marah ketika sahabat-sahabat beliau yang sudah faham akan islam melakukan kesalahan yang membuat mereka akan dimurkai Allah SWT, maka beliau marah mencegah mereka agar tidak mendapat kemurkaan itu. Kedua, Beliau senantiasa bersabar dan memberikan maaf kepada orang yang belum paham akan islam dan berlaku baik dengan mereka karena beliau menginginkan kebaikan bagi mereka yaitu masuk islam. Dan jika kita lihat dalam konteks kekinian, masyarakat islam saau ini adalah dalam kondisi yang jauh dan tidak paham dari ajaran islam yang baik dan benar. Karena mereka mungkin belum mengertahuinya, sehingga sikap Rasulullah s.a.w  yang kedua inilah yang seharusnya lebih kita kedepankan saat ini. Ketiga bahwa marah dan bersabarnya Rasulullah s.a.w kepada orang lain semata-mata karena ingin orang-orang yang dihadapinya mendapatkan petunjuk dan semakin dekat kepada Allah SWT saja.
Oleh karenanya, silahkan marah, asal marah kita bisa semakin mendekatkan diri dan orang lain kepada Islam dan mendapatkan keridhaan Allah semata,
Wallahu’alam


Gambar diambil dari  sini

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar Anda, silahkan berkunjung lagi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Informasi

Buletin Insaf Lawang adalah buletin mingguan yang diterbitkan oleh Yayasan Bina Insan

Pengikut

Buletin Insaf Lawang Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template