Kamis, 23 Desember 2010

Shaleh Diri Sebelum Shaleh Anak


Anak shaleh adalah idaman setiap pasangan suami istri. Tak ada ayah atau ibu manapun yang menghendaki anaknya menjadi tidak baik. Tapi ketahuilah bahwa memiliki anak di zaman sekarang ini, ibaratkan kita sedang berjudi. Dengan segala pengorbanan moral dan materi yang telah kita berikan, kalau anak kita tumbuh menjadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua, taat beragama dan berguna bagi masyarakatnya, saat itu kita sebagai orang tua telah mendapatkan syurga kita. Kebahagiaan di dunia karena kebaikan yang dicipta oleh anak kita, itu adalah syurga permulaan yang bisa kita nikmati di dunia, sebelum menikmatinya dengan kekal di syurga yang sesungguhnya, dalam kehidupan setelah kehidupan ini.

Itu kalau anak kita, shaleh, tapi kalau anak kita thaleh (lawan shaleh), maka kecelakaanlah bagi kita, sebab anak tersebut hanya akan memberikan penderitaan yang berkelanjutan pada kita sepanjang kehidupan kita di dunia ini. Belum lagi penderitaan abadi yang sangat mungkin kita alami dengan kekal di akherat nanti. Sebab anak yang demikian, kalau ketidak shalehannya adalah karena kelalaian kita dalam mendidiknya, maka ia kelak bisa menyeret kita ke dalam neraka!

Saudara, apapun usaha kita untuk menjadikan anak-anak kita shaleh dan shalehah, bagaimanapun upaya kita mendidik mereka menjadi anak-anak yang baik, kalau tidak dibarengi dengan dengan kebaikan kita sendiri sebagai orang tuanya, maka semua upaya itu hanyalah akan berakhir dengan kesia-siaan belaka. Sebab untuk mencetak anak yang shaleh dan shalehah, bapak-ibunya dulu yang harus shaleh dan shalehah. Kita sering mendapati anak-anak kita membangkang perintah kita. tapi, kalau kita mau jeli, coba kita perhatikan dengan seksama, maka akan kita dapati bahwa anak-anak kita sangat cepat meniru dan mencontoh perilaku dan sikap kita sehari – hari.

Kalau seorang ibu adalah sekolah untuk anak-anaknya, maka seorang ayah adalah kepala sekolahnya. Sebagai kepala sekolah, seorang ayah dituntut untuk mengelola sekolahnya dengan baik. Memilih guru – guru terbaik untuk mengajar murid – muridnya. Sebab guru yang tak baik, hanyalah akan mengajarkan ketidak baikan juga kepada para murid. Nah, guru yang saya maksud disini adalah istri kita, ibu dari anak – anak kita. Sebab perkembangan seorang anak itu lebih banyak dipengaruhi oleh ibunya. Hal ini tentu masuk akal, sebab anak – anak lebih banyak bersama ibunya daripada ayahnya. Untuk itulah, kewajiban pertama yang harus dilakukan oleh seorang lelaki untuk mempersiapkan anak –anak yang shaleh dan shalehah, adalah memilih istri yang shalehah.

Dalam sebuah kelas bahasa Arab, seorang guru saya pernah berujar bahwa al-walad (anak) yang shaleh hanya akan keluar dari rahim seorang umm (ibu) yang mujahidah (pejuang), muta’allimah (terpelajar) dan faahimah lidinihaa (faham terhadap kewajiban agamanya). Hmm, pejuang, terpelajar dan faham agama, kriteria semacam itulah yang mesti dicari oleh semua calon bujang yang sedang mencari istri. Bagi yang sudah terlanjur menikah, pastikan bahwa kriteria tersebut ada pada istri Anda. Kalau tidak ada, bagaimana? Harus diciptakan mulai sekarang. Tumbuhkan padanya mental pejuang. Beri kesempatan kepadanya untuk belajar, mendalami islam, dan paculah ia untuk mengamalkan sekecil apapun ilmu yang dimilikinya.

Itu adalah kriteria seorang ibu. Bagaimana dengan ayah? Sebagaimana seorang kepala sekolah yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan kegiatan belajar mengajar di sekolah, maka seorang ayah dalam sebuah rumah tangga, dia adalah pemimpin yang bertanggung jawab terhadap baik dan buruknya suatu rumah tangga. Sebab, sebaik dan sehebat apapun seorang istri, kalau dipimpin oleh seorang suami yang brengsek, maka bisa dipastikan bahwa dia tidak akan bisa menjalankan perannya dengan baik untuk mendidik anak – anaknya menjadi baik. Begitu pula, sehebat apapun seorang suami sebagai pemimpin rumah tangga, kalau beristrikan seorang perempuan bodoh, yang tidak mengerti akan ajaran agamanya, maka bisa dipastikan bahwa program – program pendidikan anak yang telah dibuatnya tidak akan bisa berjalan dengan baik. Sebab yang menjadi pelaksana harian program itu, bahkan menjadi ujung tombaknya, adalah ibu.

Tersebutlah seorang pemuda bernama Mubarak, dia bekerja sebagai penjaga kebun anggur. Setelah bekerja selama bartahun – tahun, suatu hari majikannya, pemilik kebun datang berkunjung, sang majikan bertanya padanya “Bagaimana rasa anggur ini?” katanya sambil menunjuk ke suatu tandan anggur. “Saya gak tahu, Tuan” jawab Mubarak. “Bagaimana kamu tidak tahu, kamu khan sudah lama bekerja disini? Masa kamu gak pernah mencicipinya?” “Ia Tuan, sebab saya tidak berani untuk memakan buah yang ada disini tanpa seijin Tuan”. Keshalehan Mubarak yang tidak mau makan, walau sebuah pun dari anggur yang dijaganya, telah mengantarkannya menjadi ayah yang baik, yang menjadi tauladan anak –anaknya. Sehingga tidak heran, kalau kemudian seorang anak dari Mubarak ini menjadi orang besar, ‘alim, ahli fiqh, dan ahli tashawwuf. Disamping itu, dia juga adalah seorang saudagar kaya yang kerap membantu fakir miskin yang membutuhkan. Dia adalah Syaikh Abdullah Bin Mubarak.

Tersebutlah pula, seorang lelaki gagah yang menikahi seorang perempuan cacat fisik yang bernama Ghaliyah. Perempuan tersebut sama sekali tidak dilirik oleh para pemuda di kampungnya. Tapi lelaki ini tetap bergeming ketika teman – temannya mengejeknya karena telah menikahi perempuan tersebut. “Aku menikahinya karena berharap seorang anak shaleh dan cerdas yang akan lahir dari rahimnya.” begitu kira - kira lelaki tersebut menyanggah ucapan teman – temannya. Dan benar saja, dari perempuan ini kemudian lahir seorang imam madzhab, yang menjadi salah satu rujukan utama dari empat madzhab (pendapat fiqh) besar yang dianut kaum muslimin di seluruh dunia. Yah, anak itu adalah Abu Abdillah Malik bin Anas.

Anak adalah syurga atau neraka kita. Untuk itu, mari kita mulai untuk menjadikan anak sebagai perhatian utama kita, sebelum yang lain. Menjadikannya sebagai orientasi utama kita ketika kita memilih pasangan hidup. Ketika kita memilih pekerjaan. Ketika kita memilih tempat tingal, memberi makan dan memilihkan sekolah dan teman terbaik untuknya.

Wallahu A’lam



Gambar diambil dari sini

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar Anda, silahkan berkunjung lagi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Informasi

Buletin Insaf Lawang adalah buletin mingguan yang diterbitkan oleh Yayasan Bina Insan

Pengikut

Buletin Insaf Lawang Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template