Jumat, 18 Februari 2011

Maralah, Asal....


Seluruh prilaku hidup Rasulullah s.a.w adalah teladan bagi umatnya, ucapannya, diamnya, bahkan marahnya.  Beliau adalah juga manusia seperti kita, yang bisa merasa sedih, bergembira dan juga marah. Akan tetapi bila kita kaji sirah [perjalanan hidup] beliau s.a.w, maka akan nampak bahwa beliaulah orang yang paling bisa mengendalikan dan menempatkan amarah.
Ya, benar Rasulullah pernah marah, ketika Abu Dzar r.a mengejek sahabat Bilal bin Rabbah. Dengan marahnya beliau membuat Abu Dzar merasa menyesal sehingga dia meletakkan mukanya di tanah dan meminta Bilal menginjaknya.
Ya, benar Rasulullah pernah marah, ketika Sayyidina Umar bin Khattab membawa Taurat, sehingga Rasulullah bersabda:”…. Demi Dzat yg jiwaku berada di tangan-Nya seandai Musa masih hidup niscaya tidaklah melapangkan kecuali dgn mengikuti aku.” [H.R Ahmad]
Tetapi saudara pembaca sekalian, kita juga perlu tahu bahwa Rasulullah s.a.w adalah orang yang paling bisa menahan kemarahannya. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadist. Sauatu ketika datanglah seorang Yahudi bernama, Zaid bin Sa’nah, dengan kasar dia berkata, “Ya Muhammad! Bayarlah hutangmu. Kamu keturunan Bani Hasyim biasa memperlambat pelunasan.”. Maka Umar r.a marah, dan berkata: ““Ya Rasulullah, ijinkanlah aku memenggal leher bedebah ini!”. Rasulullah bersabda, “Ya Umar, aku tidak disuruh berdakwah dengan cara begitu. Antara aku dan dia memang sedang membutuhkan kebijaksanaanmu. Suruhlah dia menagih dengan sopan dan ingatkanlah aku supaya melunasinya dengan baik.”
Mendengar sabda Rasulullah tersebut, orang Yahudi itu berkata, “Demi yang mengutusmu dengan kebenaran. Sebenarnya aku tidak datang untuk menagih hutangmu, namun aku datang untuk menguji akhlakmu. Aku tahu, tempo pelunasan utang belum tiba waktunya. Akan tetapi aku telah membaca sifat-sifatmu dalam Kitab Taurat, dan ternyata terbukti semua, kecuali satu sifat yang belum aku uji, yaitu kebijakkanmu bertindak pada waktu marah. Ternyata tindakan bodoh yang ceroboh sekalipun engkau dapat mengatasinya dengan bijaksana. Itulah yang aku lihat sekarang ini. Maka terimalah Islamku ini, ya Rasulullah,“Asyhadu alaa ilada illallah wa annaka ya Muhammad Rasulullah”.
Ada pelajaran penting yang kita ambil dari peristiwa di atas: Pertama, Rasulullah s.a.w marah ketika sahabat-sahabat beliau yang sudah faham akan islam melakukan kesalahan yang membuat mereka akan dimurkai Allah SWT, maka beliau marah mencegah mereka agar tidak mendapat kemurkaan itu. Kedua, Beliau senantiasa bersabar dan memberikan maaf kepada orang yang belum paham akan islam dan berlaku baik dengan mereka karena beliau menginginkan kebaikan bagi mereka yaitu masuk islam. Dan jika kita lihat dalam konteks kekinian, masyarakat islam saau ini adalah dalam kondisi yang jauh dan tidak paham dari ajaran islam yang baik dan benar. Karena mereka mungkin belum mengertahuinya, sehingga sikap Rasulullah s.a.w  yang kedua inilah yang seharusnya lebih kita kedepankan saat ini. Ketiga bahwa marah dan bersabarnya Rasulullah s.a.w kepada orang lain semata-mata karena ingin orang-orang yang dihadapinya mendapatkan petunjuk dan semakin dekat kepada Allah SWT saja.
Oleh karenanya, silahkan marah, asal marah kita bisa semakin mendekatkan diri dan orang lain kepada Islam dan mendapatkan keridhaan Allah semata,
Wallahu’alam


Gambar diambil dari  sini

Selasa, 25 Januari 2011

Agus Juniarto: Lulusan SMP dengan Anak Buah

pengusaha suksesAgus Juniarto, 35 tahun, adalah bapak dari dua orang putra. Memulai usahanya dengan jadi loper koran ketika dia baru lulus SMP pada tahun 1992. setiap habis solat subuh dia mengambil koran di salah satu agen di Pasar Lawang dan menjajakannya ke kampung-kampung dengan jalan kaki. Setelah melihat kesungguhannya dalam menjajakan koran, enam bulan berikutnya sang pemilik agen memintanya membantu di toko untuk menangani distribusi koran yang ada. Ketika bekerja membantu sang majikan itulah timbul keinginannya untuk suatu saat dia bisa membuka sendiri usaha sejenis.

Rupanya Allah mengabulkan keinginannya. Pada tahun 2002, karena suatu sebab, majikannya menutup usaha keagenan koran yang sudah dikelolanya selama ini. Dengan berbekal pengalamannya selama sepuluh tahun dan dengan bertawakal kepada Allah, dia memulai merintis usahanya sendiri.

Ternyata tidak memulai usaha tidak mudah, selama enam bulan pertama perkembangan usahanya tidak menunjukkan perkembangan yang memuaskan, yang hampir-hampir membuat sang istri putus asa. Tetapi dia tetap membesarkan hati istrinya untuk tetap bersabar dan menyakini janji Allah pasti akan menolong hambaNya yang berusaha dengan ikhlas. Akhirnya dengan melakukan beberapa inovasi dan menghubungi rekan-rekan loper koran lambat laun usahanya mulai menunjukkan perkembangan yang menggemberikan.

Tahun 2011 ini, Mas Agus, begitu dia biasa disapa, sudah memiliki “30 anak buah” yang menjajakan korannya dari Singosari hingga Nongkojajar Pasuruan. Oplah koran yang dijajakan perharinya rata-rata sekitar 2000 eksemplar, jumlah eksemplar itu akan naik di akhir pekan.

Tentu banyak suka dukanya mengelola usaha yang melibatkan banyak orang sebagai ujung tombak dalam penjualannya. Untuk itu redaksi Insaf menyempatkan diri berbincang dengan Mas Agus yang insyaAllah segera menunaikan ibadah haji ini.



Bagaimana agar dalam menjalani sebuah usaha itu kita bisa tetap semangat Mas?


Yang paling utama adalah senantiasa menyadari bahwa bekerja itu adalah bagian dari ibadah kepada Allah. Dengan cara seperti itu insyaAllah setiap ada permasalahan saya yakin pasti Allah akan memberikan jalan keluarnya.

Bisa memberikan contoh permasalahan yang Mas Agus hadapi?

Saya bekerja dengan 30 orang loper koran dari yang usianya masih muda dan masih sekolah hingga mereka yang umurnya jauh lebih tua dengan saya. Nah saya harus bisa “ngemong” pada mereka. Salah satu permasalahan loper koran adalah ada diantara mereka yang menunggak uang setoran sampai jutaan. Maka saya mencoba mendekati mereka secara kekeluargaan. Saya kunjungi mereka kerumahnya, saya tanyakan permasalahannya dan saya berusaha mencoba membantu memecahkannya. Untuk yang muda saya senantiasa memberikan motivasi agar mereka tidak mudah menyerah untuk berusaha. Sedangkan untuk yang tua, saya senantiasa menghormatinya.

Bagaimana hasilnya?


Alhamdulillah hasilnya cukup baik, ada yang punya tunggakan hingga 5 juta, kemudian saya memberikan saran dengan menambah oplahnya di sore hari, dia menuruti saran saya, tidak terasa selama setahun dia sudah bisa mengangsur separuh dari hutangnya tanpa terasa. Dengan cara itu dia semakin bersemangat lagu untuk menjual korannya.

Untuk bisa seperti besar sekarang tentu tidak mudah khan Mas, apa kiatnya?

Saya senantiasa belajar untuk mengatahui bagaimana menjalankan usaha ini dengan lebih baik. Ketika saya masih ikut orang dulu saya mempelajari, bagaimana mendapatkan kiriman dari penerbit dan mengelola keuangnya. Saya juga mempelajari bagaimana cara menjualnya yang baik. Nah ketika saya membuka usaha sendiri ilmu yang saya pelajari itu sangat bermanfaat. Sampai saat inipun saya tetap belajar, misalnya bagaimana agar anak-anak yang baru itu tidak menunggak, bagaimana mereka dalam waktu tiga bulan sudah bisa menghasilkan penjualan yang baik, dan masih banyak lagi.


Apa pesan Mas Agus pada anak-anak muda yang mau merintis usaha?

Merintis usaha itu selalu ada masa-masa tidak enaknya, untuk itu kuncinya ya Sabar dan telaten dalam menghadapi segala permasalahan, dan jangan lupa melakukan semua itu sebagai ibadah dan lupa senantiasa menyerahkan hasilnya pada Allah agar kita tidak mudah terpuruk ketika ada masalah.

Kamis, 23 Desember 2010

Lelaki Tua, Pemuda dan Burung Gereja


Di suatu sore yang indah duduklah lelaki tua dengan seorang pemuda tampan di halaman sebuah rumah yang indah. Lelaki tua itu, sudah tidak bisa melihat dan mendengar dengan jelas apa yang terjadi di sekelilingnya.

“Apa itu nak?” kata lelaki tua tersebut kepada pemuda yang asyik membaca koran disampingnya.

“Burung Gereja Pak !” katanya setelah melihat seekor burung gereja hinggap di dahan sebuah bunga. Kemudian burung kecil itu terbang dan mendarat di depan kaki si lelaki tua sambil mematuk-matuk sisa makanan yang ada di sekitar bangku yang mereka duduki.

“Apa itu nak?” tanya lelaki tua itu lagi.

Sang anak, mulai agak tidak sabar dengan pertanyaan lelaki tua itu, sambil tetap asyik membaca koran, sang anak menjawab, kali ini dengan agak keras. “Burung gereja!”

Burung gereja itu terkejut dan terbang, tetapi sesaat kemudian burung tadi mendekat lagi untuk melanjutkan menghabiskan sisa makanan yang ada di dekat bangku yang mereka duduki.

“Apa itu Nak?”

Kali ini sang pemuda bangkit dari tempat duduknya dan melemparakn koran yang dibacanya dan berteriak.

“B-U-R-U-N-G G-E-R-E-J-A! Bukankah sudah aku katakan sejak tadi!!!!”

Mendengar jawaban sang pemuda, lelaki tua tersebut beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam rumah. Sementara si pemuda mulai asyik membaca koran yang ditinggalkannya, tetapi pikirannya tidak tenang. Sejenak kemudian sang lelaki tua kembali sambil membawa sebuah buku saku yang sudah usang. Kemudian si lelaki tua membuka sebuah halaman dari buku tadi mengulurkan buku teresebut pada sang pemuda. Sang pemuda keheranan.

“Bacalah!” pinta lelaki tua tersebut.

Sang pemuda masih terlihat ragu.

“Yang Keras Bacanya!”

Kemudian sang pemuda dengan suara lantang membaca,

“Sore itu, aku bersama anak lelakiku sedang bersantai di sebuah taman. Kami duduk di sebuah bangku. Tiba-tiba ada seekor burung gereja hinggap di dahan di depan kami. Anak lelakiku bertanya. “Apa itu Yah?” aku menjawabnya dengan suka cita, “Burung gereja..” Kemudian burung gereja itu terbang dan kemudian kembali hinggap di bangku di depan kami untuk mencari makanan. Sekali lagi anak lelakiku bertanya, “Apa itu Ayah?” aku memeluknya dengan penuh kasih pada anakku yang masih berumur tiga tahun itu, dan kujawab dengan lembut, “Burung Gereja, anakku..”… burung gereja pun terbang dan kembali hinggap di dekat kami, dan sekali lagi anak lelakiku bertanya, “ Apa itu Ayah?” aku memeluknya lagi dan menjawabnya dengan sayang, “Burung gereja sayang!” begitulah anakku bertanya hal yang sama hampir 21 kali, dan setiap kali aku akan menjawabnya aku memelukknya dengan sayang kepada anak lelaki kebanggaanku ….!”

Suara pemuda tersebut bergetar, diletakkannya buku tua tadi dan dipeluknya sang Ayah yang sejak kecil selalu membanggakannya.


***

Diceritakan ulang dari film pendek berjudul Old father, Son and Sparrow anda bisa melihatnya di Youtube di link berikut.

http://www.youtube.com/watch?v=2kpLDkWg5DA

Gambar diambil dari sini 

Ayahku Hebat

Father's Day Pictures, Images and Photos

Walau tak semulia ibu, tapi ayah tetap adalah orang yang mempunyai banyak hak terhadap diri kita. Bersama ibu, ayah telah merawat, mendidik dan membesarkan kita. Banyak ayah kita yang harus pergi pagi pulang malam. Bekerja jungkir balik, kaki dibuat kepala, kepala dibuat kaki, hanyalah untuk kita, anak – anaknya. Semua itu dilakukan agar kita tetap bisa makan dengan gizi yang cukup. Agar kita tetap bisa sekolah sampai jenjang yang paling tinggi. Agar kita juga bisa mempunyai pakaian layak sebagaimana teman – teman kita. Agar kita juga bisa mempunyai motor seperti teman – teman yang lain. Tapi, apa pembalasan kita terhadap ayah yang sedemikian gigih berjuang, bekerja untuk masa depan kita.

Ayah selalu ingin memberikan yang terbaik untuk kita. Ketika dirinya mungkin bukanlah orang yang begitu baik, tapi dia berharap agar anaknya bisa menjadi jauh lebih baik darinya. Ketika dirinya bukanlah orang kaya, tapi dia berharap agar anaknya tidaklah hidup susah seperti dirinya. Ketika dirinya mungkin hanyalah tamatan SD, tapi dia berharap agar anaknya bisa melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi. Ketika dirinya mungkin adalah kuli bangunan atau buruh pabrik, tapi dia berharap agar anaknya kelak bekerja layak di kantor, menjadi pedagang sukses atau menjadi pejabat.

Itulah ayah, walau keberadaannya di sisi kita tidak sesering ibu, tapi di kejauhan sana, keberadaannya adalah teruntuk kita. Mungkin ada ayah kita yang hanya pulang seminggu sekali, karena bekerja di luar kota. Atau pulang sebulan sekali, karena bekerja di luar pulau. Atau juga ada yang yang harus pulang setahun sekali, dua tahun sekali, atau bahkan lima tahun sekali, karena harus bekerja sebagai TKI di luar negeri. Sekali lagi, bahwa di tempatnya yang jauh dari kita, ayah begitu rindu pada kita. Yang ada dalam benaknya ketika harus memeras keringat, memangglul beban berat, adalah keberlangsungan hidup dan masa depan kita.

Ayah mungkin jarang bicara sama kita, jarang menelpon kita, jarang mengurusi pelajaran kita, tidak pernah membantu kita mengerjakan PR, tidak pernah menyiapkan baju kita sebagaimna ibu, tapi ketahuilah bahwa ayah sebenarnya yang selalu mengecek semua itu pada ibu. Ketika kau mendengar ibumu sedang berbincang dengan ayah, tak akan pernah terlewat olehnya untuk memperbincangkan kita. Menanyakan bagaimana sekolah kita. Menanyakan kabar terkini tentang kita. Kalau ayah sedang berada di luar kota, atau di tempat kerja, ketika dia menelpon ibu kita, ketahuilah bahwa orang yang ditanyakan pertama kali adalah kita.

Masa depan Akherat, syurga memang letaknya di telapak kaki ibu, tapi masa depan dunia, adalah terletak pada pundak ayah. Makanya, jangan heran kalau ada seorang ayah yang sampai melakukan perbuatan tidak masuk akal sekalipun, seperti terpaksa berbuat jahat. Mungkin ada yang menjadi perampok, maling, tukang palak, semua itu dilakukan untuk kita, anak - anaknya. Agar dapur di rumah kita bisa tetap mengepul dan SPP sekolah kita bisa tetap terbayar.

Ayah mungkin terlalu kasar kepada kita, kalau dibandingkan kelembutan ibu. Tapi, itulah ekspresi cinta ayah. Atau mungkin ada ayah yang semasa kita kecil, banyak memukul kita, sekali lagi, begitulah cara ayah mengungkap kasih dan sayangnya pada kita. Atau ayah kita yang terlampau disiplin, ini itu, semuanya tidak boleh, begitulah sebagian ayah menunjukkan perhatiannya pada anak. Maka, dari berbagai karakter dan sikap ayah kita, sebagai anak, kita tidak harus memaksa ayah kita untuk berstyl seperti yang kita inginkan. Justru kita yang harus selalu berusaha memahami ayah. Kita harus menyesuaikan dengan ritme dan geraknya dalam berinteraksi dengan kita.

Sebagai kepala rumah tangga, ayah tentu mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengantarkan rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Ayah bertanggung jawab atas kebaikan ibu dan keshalehan kita. Ayah bertanggung jawab terhadap kebutuhan finansial rumah tangga. Untuk itu, wajar kiranya kalau kemudian Allah juga memberikan hak besar terhadap anak – anaknya. Seperti pemberian nama, itu adalah hak ayah. Yang berhak memberikan legalisasi (wali) pernikahan anak perempuan, juga adalah ayah. Begitu juga dengan silsilah nasab (keturunan), juga hanya diurut dari pihak ayah saja, bukan ibu.

Untuk itulah, walau bukan ayah yang mengandung dan melahirkan kita, tapi Allah tetap mewajibkan kita untuk berterima kasih (berbakti) kepada ayah yang dirangkai dalam satu paket bersama ibu dalam rangka bersyukur kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya: “Hendaklah kamu (manusia) bersyukur kepadaKu, dan kepada kedua orang tuamu…” (QS. Luqman: 14) Perhatikan Saudara, sekali lagi, walau tidak semulia ibu, tapi tuntutan Allah kepada kita untuk berterima memuliakan dan menjunjung ayah, adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Maka, jangan pernah mengabaikan ayah kita, karena sebenarnya di tengah kesibukan ayah, selalu ada kita dalam angan dan citanya.

Wallahu A’lam

Foto diambil dari sini

Shaleh Diri Sebelum Shaleh Anak


Anak shaleh adalah idaman setiap pasangan suami istri. Tak ada ayah atau ibu manapun yang menghendaki anaknya menjadi tidak baik. Tapi ketahuilah bahwa memiliki anak di zaman sekarang ini, ibaratkan kita sedang berjudi. Dengan segala pengorbanan moral dan materi yang telah kita berikan, kalau anak kita tumbuh menjadi anak yang baik, berbakti kepada orang tua, taat beragama dan berguna bagi masyarakatnya, saat itu kita sebagai orang tua telah mendapatkan syurga kita. Kebahagiaan di dunia karena kebaikan yang dicipta oleh anak kita, itu adalah syurga permulaan yang bisa kita nikmati di dunia, sebelum menikmatinya dengan kekal di syurga yang sesungguhnya, dalam kehidupan setelah kehidupan ini.

Itu kalau anak kita, shaleh, tapi kalau anak kita thaleh (lawan shaleh), maka kecelakaanlah bagi kita, sebab anak tersebut hanya akan memberikan penderitaan yang berkelanjutan pada kita sepanjang kehidupan kita di dunia ini. Belum lagi penderitaan abadi yang sangat mungkin kita alami dengan kekal di akherat nanti. Sebab anak yang demikian, kalau ketidak shalehannya adalah karena kelalaian kita dalam mendidiknya, maka ia kelak bisa menyeret kita ke dalam neraka!

Saudara, apapun usaha kita untuk menjadikan anak-anak kita shaleh dan shalehah, bagaimanapun upaya kita mendidik mereka menjadi anak-anak yang baik, kalau tidak dibarengi dengan dengan kebaikan kita sendiri sebagai orang tuanya, maka semua upaya itu hanyalah akan berakhir dengan kesia-siaan belaka. Sebab untuk mencetak anak yang shaleh dan shalehah, bapak-ibunya dulu yang harus shaleh dan shalehah. Kita sering mendapati anak-anak kita membangkang perintah kita. tapi, kalau kita mau jeli, coba kita perhatikan dengan seksama, maka akan kita dapati bahwa anak-anak kita sangat cepat meniru dan mencontoh perilaku dan sikap kita sehari – hari.

Kalau seorang ibu adalah sekolah untuk anak-anaknya, maka seorang ayah adalah kepala sekolahnya. Sebagai kepala sekolah, seorang ayah dituntut untuk mengelola sekolahnya dengan baik. Memilih guru – guru terbaik untuk mengajar murid – muridnya. Sebab guru yang tak baik, hanyalah akan mengajarkan ketidak baikan juga kepada para murid. Nah, guru yang saya maksud disini adalah istri kita, ibu dari anak – anak kita. Sebab perkembangan seorang anak itu lebih banyak dipengaruhi oleh ibunya. Hal ini tentu masuk akal, sebab anak – anak lebih banyak bersama ibunya daripada ayahnya. Untuk itulah, kewajiban pertama yang harus dilakukan oleh seorang lelaki untuk mempersiapkan anak –anak yang shaleh dan shalehah, adalah memilih istri yang shalehah.

Dalam sebuah kelas bahasa Arab, seorang guru saya pernah berujar bahwa al-walad (anak) yang shaleh hanya akan keluar dari rahim seorang umm (ibu) yang mujahidah (pejuang), muta’allimah (terpelajar) dan faahimah lidinihaa (faham terhadap kewajiban agamanya). Hmm, pejuang, terpelajar dan faham agama, kriteria semacam itulah yang mesti dicari oleh semua calon bujang yang sedang mencari istri. Bagi yang sudah terlanjur menikah, pastikan bahwa kriteria tersebut ada pada istri Anda. Kalau tidak ada, bagaimana? Harus diciptakan mulai sekarang. Tumbuhkan padanya mental pejuang. Beri kesempatan kepadanya untuk belajar, mendalami islam, dan paculah ia untuk mengamalkan sekecil apapun ilmu yang dimilikinya.

Itu adalah kriteria seorang ibu. Bagaimana dengan ayah? Sebagaimana seorang kepala sekolah yang bertanggung jawab terhadap keberhasilan kegiatan belajar mengajar di sekolah, maka seorang ayah dalam sebuah rumah tangga, dia adalah pemimpin yang bertanggung jawab terhadap baik dan buruknya suatu rumah tangga. Sebab, sebaik dan sehebat apapun seorang istri, kalau dipimpin oleh seorang suami yang brengsek, maka bisa dipastikan bahwa dia tidak akan bisa menjalankan perannya dengan baik untuk mendidik anak – anaknya menjadi baik. Begitu pula, sehebat apapun seorang suami sebagai pemimpin rumah tangga, kalau beristrikan seorang perempuan bodoh, yang tidak mengerti akan ajaran agamanya, maka bisa dipastikan bahwa program – program pendidikan anak yang telah dibuatnya tidak akan bisa berjalan dengan baik. Sebab yang menjadi pelaksana harian program itu, bahkan menjadi ujung tombaknya, adalah ibu.

Tersebutlah seorang pemuda bernama Mubarak, dia bekerja sebagai penjaga kebun anggur. Setelah bekerja selama bartahun – tahun, suatu hari majikannya, pemilik kebun datang berkunjung, sang majikan bertanya padanya “Bagaimana rasa anggur ini?” katanya sambil menunjuk ke suatu tandan anggur. “Saya gak tahu, Tuan” jawab Mubarak. “Bagaimana kamu tidak tahu, kamu khan sudah lama bekerja disini? Masa kamu gak pernah mencicipinya?” “Ia Tuan, sebab saya tidak berani untuk memakan buah yang ada disini tanpa seijin Tuan”. Keshalehan Mubarak yang tidak mau makan, walau sebuah pun dari anggur yang dijaganya, telah mengantarkannya menjadi ayah yang baik, yang menjadi tauladan anak –anaknya. Sehingga tidak heran, kalau kemudian seorang anak dari Mubarak ini menjadi orang besar, ‘alim, ahli fiqh, dan ahli tashawwuf. Disamping itu, dia juga adalah seorang saudagar kaya yang kerap membantu fakir miskin yang membutuhkan. Dia adalah Syaikh Abdullah Bin Mubarak.

Tersebutlah pula, seorang lelaki gagah yang menikahi seorang perempuan cacat fisik yang bernama Ghaliyah. Perempuan tersebut sama sekali tidak dilirik oleh para pemuda di kampungnya. Tapi lelaki ini tetap bergeming ketika teman – temannya mengejeknya karena telah menikahi perempuan tersebut. “Aku menikahinya karena berharap seorang anak shaleh dan cerdas yang akan lahir dari rahimnya.” begitu kira - kira lelaki tersebut menyanggah ucapan teman – temannya. Dan benar saja, dari perempuan ini kemudian lahir seorang imam madzhab, yang menjadi salah satu rujukan utama dari empat madzhab (pendapat fiqh) besar yang dianut kaum muslimin di seluruh dunia. Yah, anak itu adalah Abu Abdillah Malik bin Anas.

Anak adalah syurga atau neraka kita. Untuk itu, mari kita mulai untuk menjadikan anak sebagai perhatian utama kita, sebelum yang lain. Menjadikannya sebagai orientasi utama kita ketika kita memilih pasangan hidup. Ketika kita memilih pekerjaan. Ketika kita memilih tempat tingal, memberi makan dan memilihkan sekolah dan teman terbaik untuknya.

Wallahu A’lam



Gambar diambil dari sini

Kamis, 25 November 2010

Tahun Baru Islam, Semangat Baru Islam




Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalender Islam (Hijriyah). Yang menandakan bahwa tanggal satu Muharram adalah tahun baru Islam. Bulan Muharram sendiri, dan juga sebelas bulan lainnya yang termasuk dalam kalender hijriyah, sebenarnya sudah ada dan dikenal dalam sejarah masyarakat Arab sebelum Islam. Termasuk juga penetapan bulan-bulan haram (suci) yang empat, Dzulqa’dah, Dzul-Hijjah, Muharram dan Rajab. Setelah Islam datang, kemudian empat bulan haram itu mendapat penegasan. Seperti firman Allah: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram”. (At-Taubah: 36).

Tentang apa saja bulan haram yang empat itu, Rasulullah saw sendiri yang mentafsirkan ayat ini. Sebagaimana sabdanya: “Setahun ada dua belas bulan, empat diantaranya adalah bulan suci. Yang tiga, berturut-turut, Dzulqa’dah, Dzul-Hijjah, Muharam dan Rajab”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad).

Hanya saja masyarakat Jahiliyah tidak ada yang mempunyai batasan yang pasti untuk menandai tahun. Mereka biasanya menandai tahun dengan peristiwa – peristiwa yang terkait dengan tahun tersebut. Seperti contoh kelahiran Rasulullah Muhammad saw, adalah tahun gajah. Karena waktu itu ada peristiwa upaya penghancuran ka’bah yang dilakukan Abrahah dengan tentara bergajahnya. Berawal pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab ra, atas ide Ali bin Abi Thalib ra, kemudian Sayyidina Umar menetapkan hijrahnya Rasulullah saw sebagai hitungan tahun dalam kalender Islam.
Karena peristiwa tersebut mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam. Terkait dengan urutan bulan, mulai Muharram sampai Dzulhijjah, Sayyidina Umar tidak merubahnya.
Karena itu adalah urutan yang sudah dikenal luas di masyarakat Arab dan mendapatkan penegasan dari Allah swt. Jadi jelas bahwa permulaan kalender hijriyah, urutan bulannya dari Muharram, bukan karena Rasulullah hijrah di bulan Muharram. Karena Rasulullah sendiri hijrah pada bulan Rabi’ul Awwal. Hanya penghitungan tahunnya yang dinisbahkan (disandarkan) kepada hijrah beliau. Sehingga jadilah tahun Islam itu disebut tahun hijriyah. Ini juga untuk menepis tuduhan orang – orang syi’ah yang sok pinter, yang mengatakan bahwa Sayyidina Umar “salah” menyebut hijrah
Rasulullah saw pada bulan Muharram. Padahal Sayyidina Umar tidak pernah menyebut demikian. Berarti yang ngawur itu adalah orang – orang syi’ah, yang dasarnya mereka sudah tidak suka pada Umar bin Khaththab.

Nah, kalau demikian tidak ada yang salah dengan kebiasaan kaum muslimin yang setiap datangnya Muharram, sebagai tahun baru Islam, selalu menghubungkannya dengan peristiwa Hijrahnya Rasulullah saw dan para sahabatnya ke Madinah.
Karena memang itu adalah awal penghitungan kalender Islam. Hanya mungkin cara merayakan dan nuansa seperti apa yang harus kita bangun untuk menjadikan perayaan tersebut penuh makna. Sehingga kita sebagai ummat Islam yang beriman kemudian, jauh setelah peristiwa hijrah tersebut, tetap bisa menghadirkan semangat hijrah dalam hidup kekinian.
Mungkin yang perlu kita biasakan mulai saat ini adalah bagaimana setiap memasuki tahun baru Islam, hendaknya kita mengadakan evaluasi terhadap semangat atau ghirah keislaman kita. Mari kita bertekad untuk menjadi muslim yang lebih baik. Kita harus merenungkan kembali kandungan hikmah yang ada di balik peristiwa hijrah yang dijadikan acuan awal perhitungan tahun Islam ini.

Sebagaimana kita ketahui bahwa Rasulullah saw dan para sahabatnya memutuskan hijrah, baik ke Habasah ataupun ke Yatsrib, adalah karena mereka mendapatkan tekanan dan intimidasi yang luar biasa daripada musuh-musuh Islam di Mekkah. Bukan karena kesulitan ekonomi yang membuat mereka meninggalkan kampong halaman. Bukan pula karena mereka tidak memperoleh kedudukan politik yang membuat mereka harus mencarinya di tempat lain. Bukan pula karena mereka kesulitan mendapatkan jodoh sehingga mereka harus mencarinya ke luar daerah. Tapi mereka hijrah (pindah tempat) adalah karena semata – mata untuk menyelamatkan agama mereka. Agar mereka bisa leluasa menjalankan ajaran agama mereka. Agar mereka bisa tenang beribadah. Agar mereka bebas beribadah kepada Allah, Tuhan mereka.


Tersebutlah seorang pemuda yang ikut hijrah bersama kaum muslimin yang lain, karena untuk mendapatkan kekasih hatinya. Sehingga karenanya kemudian Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya segala sesuatu itu tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan seperti apa yang diniatinya. Barang siapa yang hijrah karena
Allah dan Rasul-Nya, maka dia akan mendapatkan Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrah untuk mendapatkan dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka dia akan memperoleh apa yang dihijrahinya.”.

Jelaslah bahwa semangat hijrah adalah semangat penyelamatan agama dan perbaikan kualitas beragama. Sehingga bagi sesiapa yang merasa keberlangsungan agamanya terancam di suatu tempat, hendaklah ia meninggalkan tempat itu. Dan barang siapa yang di daerah asal tidak bisa mendapatkan pengajaran tentang agamanya, wajib bagi dirinya untuk pergi ke tempat lain guna memperoleh pelajaran agama. Kalaupun misal di seorang muslim di tempat asalnya bisa belajar dan menjalankan agamanya dengan baik, tetaplah baik baginya untuk pergi ke suatu daerah lain yang jauh dari kampung halamannya. Hijrah yang terakhir ini bukan untuk menyelamatkan atau belajar agama. Tapi justru sebaliknay, untuk menyebarkan agama di daerah baru.

Belajar, beribadah dan berdakwah adalah tiga hal yang dituntut oleh Islam dari para pemeluknya. Ketika seorang muslim telah memenuhi tiga hal tersebut, layaklah kalau ia menyandang karakter muslim sejati yang telah memenuhi tuntutan agamanya. Belajar memperdalam agama, adalah hal pertama yang harus disegerakan untuk dilakukan oleh oleh orang yang telah mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Belajar agama hukumnya wajib. Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap muslim dan muslimah” (HR. Bukhari Muslim). Sebab tak akan bisa kita beragama dengan baik, kalau kita tidak mengetahui ajaran agaman kita.

Bagaimana mungkin seseorang akan beribadah kepada Allah, kalau ia tak tahu landasan hukum dan tata caranya. Dengan belajar, maka kita akan banyak tahu. Dengan banyak tahu, maka Allah kemudian akan mengangkat derajat kita beberapa derajat mengungguli kaum muslimin lainnya yang tak mau belajar. “Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman diantara kalian dan yang menuntut ilmu (agama) beberapa derajat” (al-Mujadilah: 11).
“Barang siapa yang dikehendaki oleh Allah sebagai orang baik, maka Allah akan menjadikannya orang yang yang pandai beragama (faqih)” (HR. Bukhari).

Setelah mengetahui dengan baik ajaran Islam, tuntutan berikutnya yang harus dipenuhi oleh seorang muslim, adalah mengamalkan apa yang telah diketahuinya. Sebab dengan hanya mengetahui saja, tanpa mengamalkan, maka ilmu yang didapat, tentu tidaklah ada gunanya. Sebab kalau sekedar menghafal, maka hal itu lebih bisa dilakukan oleh hard disc, falsh disc ataupun memori card. Semakin tinggi ilmu seseorang, maka seharusnya semakin mengantarkan seseorang kepada rasa takut yang tinggi kepada Allah saw.

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah, diantara hamba-hamba-Nya, adalah orang-orang yang tahu (ulama)” (QS Fathiir: 28). Dan bukti ketakutan kepada Allah, adalah dengan semakin mendekat diri kepada-Nya melalu berbagai ibadah, wajib ataupun sunnah.

Setelah belajar dipenuhi, beramal juga telah dilakukan, maka kewajiban berikutnya, adalah menyampaikan apa yang diketahuinya kepada orang lain (dakwah). Tidaklah seseorang mengetahui sedikit dari agama ini, melainkan ia dberkeajiban untum menyampaikannya kepada orang lain. Sabda Rasulullah saw: “Sampaikanlah apa yang kalian ketahui dariku, walau satu ayat.”. lebih tegas lagi, Allah memerintahkan kita untuk mendakwahi manusia agar berislam yang baik sebagainmana kita berislam. Berada di jalan Allah, buka jalan para syetan. Berjalan menuju syurga, bukan berjalan menuju neraka. Seperti firman-Nya: “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan cara yang hikmah dan tutur kata yang baik. Dan bantahlah mereka dengan bantahan yang lebih baik” (An-Nahl: 125)

Termasuk juga semangat dakwah yang tidak konfrontatif dengan mengajak diskusi, dan mengedepankan dialogi seperti yang dimaksud ayat di atas, sehingga Rasulullah saw dan para sahabatnya memilih menghindar, hijrah ke tempat lain daripada harus berhadapan dengan orang – orang Quraisy yang memang sudah tidak mungkin untuk diajak diskusi.

Nah Sodara, semangat rajin belajar, tekun beribadah dan giat berdakwah, adalah aktualisasi hijrah yang harus kita manifestasikan dalam hidup keseharian kita.

Wallahu A’lam.

Sabtu, 20 November 2010

Kebersamaan Dalam Perbedaan

Sebenarnya tidak sulit bagi Allah subhaanahu wata’ala untuk menjadikan semua manusia satu suku saja, atau satu bangsa saja. Dengan rupa yang sama, warna kulit yang sama dan bahasa yang sama. Tapi hal tersebut tidak Allah lakukan, karena  justru akan menjauhkan manusia dari keindahannya. Coba kita bayangkan, kalau seandainya kita semua tampil seragam, lingkungan sekitar seragam, semua yang ada di depan mata kita seragam, tentu akan kita dapati bahwa itu akan menjadikan mata tak sedap memandang. Perasaan bosan akan terus mendera, sehingga kita  akan mudah berontak untuk kemudian pergi menjauh.


Nah saudara, sesungguhnya keberagaman yang Allah jadikan untuk kita, adalah untuk menjadikan kita selalu dalam kebersamaan. Allah menginginkan kita untuk tetap indah dalam keberagaman. Keberagaman harus selalu dibangun untuk tumbuh dan berkembang dalam kebersamaan kemanusia-an kita.  Manusia yang menyadari seutuhnya bahwa kita memang dicipta dalam perbedaan. Perbedaan yang harus dikelola. Perbedaan yang kudu dipoles, dipercantik sehingga menjadikan kita semua betah untuk terus bersama.

Keberagaman manusia adalah fithrah yang niscaya. Sebagaimana firman Allah swt:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan kemudian menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling kenal-mengenal.....” (QS. Al-Hujurat: 13). “Supaya kalian saling mengenal”, begitu kata Allah dalam ayat ini. Tentu yang namanya saling mengenal tidaklah akan berhenti dengan hanya saling kenal saja. Setelah saling kenal, manusia dituntut untuk saling mengasihi. Saling melengkapi kekurangan masing – masing. Saling bekerja sama dalam berbagai hal yang berbeda. Karena dengan berbagai latar belakang (laki – laki perempuan, bersuku – suku dan berbangsa – bangsa), tentunya juga akan memiliki keahlian masing – masing. Pun mereka juga memiliki karakter  yang berbeda satu sama lain.

Dalam keberagaman itu Allah memerintahkan manusia untuk saling berlomba mengerjakan kebajikan. Berusaha untuk selalu terdepan dalam menyebar kebaikan. Saling terlibat untuk terus aktif berbuat bersama mewujudkan kemaslahatan bagi manusia lainnya dan seluruh semesta.  Coba perhatiakan bagaimana Allah memotivasi kita untuk bergegas melakukan kebaikan. Sebagaimana firman-Nya:
“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah: 148). Bukan hanya bersegera dan berlomba berbuat baik yang Allah tegaskan dalam ayat ini. Tapi, Allah juga memberi tahu kita, bahwa manusia itu memang mempunyai beragam keinginan dan tujuan  (Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya). 

Setiap kita memang mempunyai harapan, kesukaan, cara berpikir, parameter dan acuan yang tidak selalu sama antara kita. Karena itulah kemudian melahirkan berbagai pendapat  yang juga banyak berbeda. Perbedaan timbul diantara kita, disamping karena memang sudah menjadi fithrah manusia itu sendiri, juga disebabkan karena latar belakang pengetahuan yang juga berbeda.   Bukan perbedaan tingkat atau jenjang pendidikan yang kami maksud disini. Tapi sumber pengetahuan yang berbeda,  cara memahami dan perbedaan cara mengaplikasikan pengetahuan, itulah yang kemudian menjadi perbedaan itu mengemuka. 



Sekarang bukan perbedaan yang ingin kita samakan. Tapi bagaimana kita menyikapi perbedaan itu tetap dalam bingkai yang sama. Yaitu kebersamaan.  Sebab kalau kita selalu menjaga jarak diantara kita hanya karena kita berbeda pendapat. Maka, selamanya kita tidak akan pernah bersama. Selamnya kita akan terus bertikai. Kita tidak akan pernah memulai kerja – kerja besar. Kalaupun kita mengerjakannya dalam keterberaian, maka bisa dipastikan bahwa kebaikan itu tak akan pernah terwujud. Atau dengan kata lain, ia tak akan menghasilkan apa – apa. Contoh ketidak bersamaanya bangsa ini dulu ketika melawan penjajah, selama itu pula kita tidak pernah berhasil mengusir penjajah. Jadilah kita bangsa terjajah selama lebih dari 300 tahun. Baru ketika kita bersama, kita berhasil memaksa para penjajah untuk angkat kaki dari tanah air kita. Apakah kita mengira bahwa mereka bersama, bersatu padu berjuang melawan penjajah, tidak ada perbedaan di antara mereka? Tentu banyak sekali perbedaan strategi perjuangan yang diyakini oleh masing – masing komandan dan simpul massa dari berbagai suku dan daerah, dengan keberagaman masing – masing. Tapi keingianan yang sama untuk merdeka, itulah yang membuat mereka kemudian bersatu. 

Kebersamaan adalah tuntutan. Keberagaman adalah kenyataan. Keberagama-an adalah keyakinan. Lantas sekarang bisakah kita tetap bersama, di tengah berbagai pendapat beragama yang beragam? Kenapa tidak? Bukankah kita sudah banyak sekali mendapat contoh indah dari para pendahulu ummat ini, para ulamaa` ummat ini, para fuqahaa  (ahli fikih) ummat ini, bagaimana mereka tetap bersama, saling menghormati pendapat masing – masing, walau mereka sering kali mengeluarkan fatwa yang berbeda.  Khalifah Abu Ja’far Almansur pernah meminta Imam Malik untuk menyatukan kaum muslimin seluruhnya dalam satu madzhab (pendapat). Yaitu madzhab Maliki, madzhabnya Imam Malik. Tapi Imam Malik menolak keras permintaan khalifah. “Wahai amirul mu’minin jangan lakukan itu, karena manusia telah banyak menerima pendapat ulama lainnya, mereka pun telah mendengar dan meriwayatkan banyak hadits, dan setiap kelompok telah berhukum sesuai dengan riwayat yang telah lebih dulu sampai pada mereka, maka biarkan mereka mengambil hukum sesuai dengan pilihan mereka sendiri.” Begitu jawab Imam Malik. (Annazhariyyatul ‘Ammah lisysyari’atil Islamiyyah)

Walau kita berbeda. Walau kita berpisah posisi dan kedudukan. Status kita juga berbeda. Apa yang kita ketahui, apa yang kita miliki juga berbeda. Banyak sekali memang perbedaan kita. Tapi, marilah kita tidak menjadikan perbedaan sebagai dasar pergaulan beragama, berbangsa dan bernegara. Perbedaan banyak itu mari kita abaikan. Dan kalau memang masih ada persamaan di antara kita, marilah persamaan itu yang kita kedepankan. Kita jadikan sebagai dasar berpijak untuk saling menguatkan satu sama lain. Bukankah agama kita sama Islamnya? Menyembah tuhan yang satu, Allah. Meyakini syurga dan neraka yang sama. Mengikuti nabi yang sama, Muhammad saw. Berpedoman kitab yang sama, Al-Qur`aan. Bukankah kita hidup di Negara yang sama, Indonesia? Bukankah kita adalah bangsa yang sama, Indonesia? Berarti kalau begitu, perbedaan kita sebenarnya adalah furuu’ (cabang) bukan pangkal (prinsip). Kalau hanya cabang saja, bukan prinsip, lantas untuk apa kita harus ngotot mempertahankan pendapat  masing – masing. Merasa diri paling benar, orang lain salah. Yang namanya cabang, memang tidak pernah sama. Ada yang kesamping, ke kiri, ke kanan, ke atas, ke bawah dan bahkan memutar. Indah sekali Sayyid Qutub menggambarkan perbedaan ini:  “Adalah tabiat manusia untuk berbeda, karena perbedaan adalah dasar diciptakannya manusia yang mengakibatkan hikmah yang sangat tinggi, seperti perbedaan mereka dalam berbagai potensi dan tugas yang diemban, sehingga akan membawa perbedaan dalam kerangka berfikir, kecenderungan metodologi dan teknik yang ditempuh. Kehidupan dunia ini akan membusuk jika Allah swt tidak mendorong manusia melalui manusia lainnya, agar energi berpendar, saling bersaing dan saling mengungguli, sehingga mereka akan menggali potensi terpendam mereka untuk terus berupaya memakmurkan bumi ini yang akhirnya akan membawa pada kebaikan, kemajuan dan pertumbuhan. Itulah kaidah umum yang tidak akan berubah selama manusia masih tetap disebut sebagai manusia.” (Fi Zhilaalil Qur`aan)

****

Gambar diambil dari sini
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Informasi

Buletin Insaf Lawang adalah buletin mingguan yang diterbitkan oleh Yayasan Bina Insan

Pengikut

Buletin Insaf Lawang Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template