Kamis, 23 Desember 2010

Ayahku Hebat

Father's Day Pictures, Images and Photos

Walau tak semulia ibu, tapi ayah tetap adalah orang yang mempunyai banyak hak terhadap diri kita. Bersama ibu, ayah telah merawat, mendidik dan membesarkan kita. Banyak ayah kita yang harus pergi pagi pulang malam. Bekerja jungkir balik, kaki dibuat kepala, kepala dibuat kaki, hanyalah untuk kita, anak – anaknya. Semua itu dilakukan agar kita tetap bisa makan dengan gizi yang cukup. Agar kita tetap bisa sekolah sampai jenjang yang paling tinggi. Agar kita juga bisa mempunyai pakaian layak sebagaimana teman – teman kita. Agar kita juga bisa mempunyai motor seperti teman – teman yang lain. Tapi, apa pembalasan kita terhadap ayah yang sedemikian gigih berjuang, bekerja untuk masa depan kita.

Ayah selalu ingin memberikan yang terbaik untuk kita. Ketika dirinya mungkin bukanlah orang yang begitu baik, tapi dia berharap agar anaknya bisa menjadi jauh lebih baik darinya. Ketika dirinya bukanlah orang kaya, tapi dia berharap agar anaknya tidaklah hidup susah seperti dirinya. Ketika dirinya mungkin hanyalah tamatan SD, tapi dia berharap agar anaknya bisa melanjutkan pendidikan sampai perguruan tinggi. Ketika dirinya mungkin adalah kuli bangunan atau buruh pabrik, tapi dia berharap agar anaknya kelak bekerja layak di kantor, menjadi pedagang sukses atau menjadi pejabat.

Itulah ayah, walau keberadaannya di sisi kita tidak sesering ibu, tapi di kejauhan sana, keberadaannya adalah teruntuk kita. Mungkin ada ayah kita yang hanya pulang seminggu sekali, karena bekerja di luar kota. Atau pulang sebulan sekali, karena bekerja di luar pulau. Atau juga ada yang yang harus pulang setahun sekali, dua tahun sekali, atau bahkan lima tahun sekali, karena harus bekerja sebagai TKI di luar negeri. Sekali lagi, bahwa di tempatnya yang jauh dari kita, ayah begitu rindu pada kita. Yang ada dalam benaknya ketika harus memeras keringat, memangglul beban berat, adalah keberlangsungan hidup dan masa depan kita.

Ayah mungkin jarang bicara sama kita, jarang menelpon kita, jarang mengurusi pelajaran kita, tidak pernah membantu kita mengerjakan PR, tidak pernah menyiapkan baju kita sebagaimna ibu, tapi ketahuilah bahwa ayah sebenarnya yang selalu mengecek semua itu pada ibu. Ketika kau mendengar ibumu sedang berbincang dengan ayah, tak akan pernah terlewat olehnya untuk memperbincangkan kita. Menanyakan bagaimana sekolah kita. Menanyakan kabar terkini tentang kita. Kalau ayah sedang berada di luar kota, atau di tempat kerja, ketika dia menelpon ibu kita, ketahuilah bahwa orang yang ditanyakan pertama kali adalah kita.

Masa depan Akherat, syurga memang letaknya di telapak kaki ibu, tapi masa depan dunia, adalah terletak pada pundak ayah. Makanya, jangan heran kalau ada seorang ayah yang sampai melakukan perbuatan tidak masuk akal sekalipun, seperti terpaksa berbuat jahat. Mungkin ada yang menjadi perampok, maling, tukang palak, semua itu dilakukan untuk kita, anak - anaknya. Agar dapur di rumah kita bisa tetap mengepul dan SPP sekolah kita bisa tetap terbayar.

Ayah mungkin terlalu kasar kepada kita, kalau dibandingkan kelembutan ibu. Tapi, itulah ekspresi cinta ayah. Atau mungkin ada ayah yang semasa kita kecil, banyak memukul kita, sekali lagi, begitulah cara ayah mengungkap kasih dan sayangnya pada kita. Atau ayah kita yang terlampau disiplin, ini itu, semuanya tidak boleh, begitulah sebagian ayah menunjukkan perhatiannya pada anak. Maka, dari berbagai karakter dan sikap ayah kita, sebagai anak, kita tidak harus memaksa ayah kita untuk berstyl seperti yang kita inginkan. Justru kita yang harus selalu berusaha memahami ayah. Kita harus menyesuaikan dengan ritme dan geraknya dalam berinteraksi dengan kita.

Sebagai kepala rumah tangga, ayah tentu mempunyai tanggung jawab yang besar untuk mengantarkan rumah tangganya menjadi rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Ayah bertanggung jawab atas kebaikan ibu dan keshalehan kita. Ayah bertanggung jawab terhadap kebutuhan finansial rumah tangga. Untuk itu, wajar kiranya kalau kemudian Allah juga memberikan hak besar terhadap anak – anaknya. Seperti pemberian nama, itu adalah hak ayah. Yang berhak memberikan legalisasi (wali) pernikahan anak perempuan, juga adalah ayah. Begitu juga dengan silsilah nasab (keturunan), juga hanya diurut dari pihak ayah saja, bukan ibu.

Untuk itulah, walau bukan ayah yang mengandung dan melahirkan kita, tapi Allah tetap mewajibkan kita untuk berterima kasih (berbakti) kepada ayah yang dirangkai dalam satu paket bersama ibu dalam rangka bersyukur kepada-Nya. Sebagaimana firman-Nya: “Hendaklah kamu (manusia) bersyukur kepadaKu, dan kepada kedua orang tuamu…” (QS. Luqman: 14) Perhatikan Saudara, sekali lagi, walau tidak semulia ibu, tapi tuntutan Allah kepada kita untuk berterima memuliakan dan menjunjung ayah, adalah kewajiban yang tidak bisa ditawar. Maka, jangan pernah mengabaikan ayah kita, karena sebenarnya di tengah kesibukan ayah, selalu ada kita dalam angan dan citanya.

Wallahu A’lam

Foto diambil dari sini

0 komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas komentar Anda, silahkan berkunjung lagi

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
 

Informasi

Buletin Insaf Lawang adalah buletin mingguan yang diterbitkan oleh Yayasan Bina Insan

Pengikut

Buletin Insaf Lawang Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template